INFO INFAQ

Informasi Infaq Shadaqah

PENDIDIKAN

Pendidikan Formal & Informal

PEMBERDAYAAN UMAT

Pemberdayaan Umat dan Sosial

Memuliakan Calon Anggota “Keluarga Allah”

MEMULIAKAN CALON ANGGOTA “KELUARGA ALLAH”
Oleh: Arief B. Iskandar (Khadim Ma’had Darun Nahdhah al-Islamiyah)

SEMALAM, sekitar ba’da maghrib, saya bertiga (bersama supir dan seorsng jamaah saya), dengan meminjam mobil salah satu jamaah Majelis An-Nahdhah tiba di Jakarta. Dengan maksud menjemput salah satu calon santri dari kalangan tidak mampu (dhuafa) di Bandara Soeta. Namanya Karim. Asal Aceh. Meski badannya tinggi, ia baru berusia 15 tahun.
Ada yang bertanya: Bukankah Ma’had An-Nahdhah adalah pesantren untuk Yatim dan Dhuafa? Dhuafa kok naik pesawat? Garuda lagi? Dengan tiket sekira Rp.2,6 juta?
Saya jawab, “Itulah janji Allah. Meski Karim baru calon Penghapal dan Pejuang al-Quran, Allah SWT sudah memuliakan dia.”
Ya, sebelumnya pasti orangtua Karim berpikir keras, bagaimana supaya keinginan kuat Karim untuk mondok di Ma’had Tahfizh Quran Darun Nahdhah al-Islamiyah di Bogor–yang tentu amat jauh dari Aceh–bisa benar-benar terwujud. Pasalnya, tentu karena biaya perjalanan Aceh-Bogor yang tidak bisa dibilang kecil untuk ukuran ayah Karim, seorang karyawan toko di kampung dengan gaji pas-pasan.
Namun, qadarullah, Allah menggerakan hati para hamba-Nya agar memuliakan para calon anggota “Keluarga-Nya”.
Ya, sebagaimana sabda Nabi saw., para penghapal, pengamal dan pejuang al-Quran adalah anggota “Keluarga Allah”. Rasulullah saw.:

أَهْلُ الْقُرْآنِ هُمْ أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ

“Para ahlul Quran. Merekalah anggota Keluarga Allah dan hamba pilihan-Nya.” (HR Ahmad).

Ya, Karim adalah salah satu calon penghapal, pengamal dan pejuang al-Quran. Artinya, Karim adalah salah satu calon anggota “Keluarga Allah”. Meski baru “calon”, sungguh sudah banyak yang memuliakan dia. Dari mulai adanya muhsinin yang membelikan dia tiket pesawat yang mahal, koper baru dan uang saku hingga keluarga yang mengantar dia meski hanya sampai Bandara Sultan Iskandar Muda Banda Aceh.
Karena itu, saya pun sudah sepantasnya memuliakan para santri saya, termasuk Karim, sebab mereka kelak akan menjadi para anggota “Keluarga Allah”. Tentu saat mereka bisa menjadi penghapal, pengamal dan pejuang al-Quran.
Karena itu tak segan-segan saya menjemput langsung Karim di Bandara Soeta. Pertama, karena baru pertama kali Karim ke Jakarta. Pertama kali pula dia naik pesawat. Sementara dia masih harus melanjutkan perjalanan ke Bogor. Ke Ma’had Tahfizh Quran Darun Nahdhah al-Islamiyah. Terbayang jika dia tersesat jalan. Sebab Jakarta dn Bogor tentu benar-benar baru bagi Karim yang datang dari kampung, dari pulau seberang.
Kedua, tentu saja karena posisi saya sebagai Khadim Ma’had Darun Nahdhah. Khadim artinya “pelayan”. Karena itu selayaknya saya melayani santri-santri saya. Meski saya adalah pimpinan Ma’had An-Nahdhah, namun sebagaimana kata Nabi saw., “Sayyidul qawm khadimuhum (Pemimpin kaum hakikatnya adalah ‘pelayan’ mereka).” Karena itu sudah selayaknya saya melayani mereka dengan sebaik-baiknya. Apalagi mereka adalah para calon anggota “Keluarga Allah”. Memuliakan mereka insya Allah sama dengan memuliakan Allah.
Karena itu mohon doa dan dukungannya. Semoga Karim, juga para santri Ma’had Darun Nahdhah al-Islamiyah semuanya bisa menjadi Ahlul Quran. Menjadi para penghapal, pengamal dan pejuang al-Quran. Agar mereka kelak benar-benar bisa menjadi anggota “Keluarga Allah”. Amiin ya Allah.
Bogor, 25/7/2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Investasi Tak Pernah Rugi INFO
Darun Nahdah Membuka Donasi untuk Pembangunan Pesantren Yatim dan Dhuafa - Investari Akhirat Yang Pasti Untung
SEE ALL
Contact Info
Yayasan Darun Nahdhah Al Islamiyah
  • Address Line 1
  • (123) 456 789
  • email@example.com